Minggu, 01 Maret 2026
Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya menggelar kegiatan Pelatihan Teknis dan Spiritualitas bagi para penyanyi paduan suara (koor), dirigen, dan organis Gereja pada hari Minggu, 01 Maret 2026. Tema yang diusung adalah "Dari Nada Menjadi Doa, Menghidupi Ekaristi". Hadirin yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 77 orang yang terdiri dari perwakilan kelompok koor di lingkungan dan stasi, calon organis dan organis, serta dirigen dan calon dirigen yang berkarya di paroki. Mengundang juga peserta dari penyanyi kelompok koor, dirigen, serta organis di Paroki Bunda Maria Garut dan Paroki St. Yohanes Pembaptis Ciamis. Panitia pelaksana dari kegiatan ini diambil dari pengurus bidang Liturgi dan pengurus OMK di paroki HKY Tasikmalaya. Untuk mengisi kegiatan ini, tim Liturgi HKY Tasikmalaya mengundang pemateri yang berasal dari Komisi Liturgi Keuskupan Bandung. Di antaranya adalah, Benediktus Praba Adi Wibawa (Benny Paw) dan Antonius Candra LK sebagai Tim Ahli Komlit. Kemudian ada Bernadian Pramudito seorang organis biara Ordo Salib Suci (OSC) dan Michael Ferino Suharsa seorang pianis. Pelatihan Teknis dan Spiritualitas ini diadakan karena ingin mewujudkan kelompok paduan suara (koor) untuk dapat lebih tepat dalam memperdalam teknis dan semangat pelayanannya.
Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh pastor Hario selaku pastor paroki dan perkenalan dari keempat pemateri yang berasal dari Tim Ahli Komlit Keuskupan Bandung. Kemudian dilanjut sesi I tentang “Memilih Lagu Liturgi”. Benny Paw sebagai pemateri sesi ini menyampaikan agar peserta dapat mencintai Liturgi dan belajar dari hal mendasar dahulu. Memahami Nyanyian Liturgi itu perlu masuk dalam spiritualitasnya agar tidak kering. Mulailah mengenal dokumen-dokumen Gereja, seperti; Musicam Sacram dan Sacrosanctum Concilium (SC). Lalu ada buku panduan Liturgi yang biasa dipakai secara teknis seperti buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE). Dalam hal memilih lagu, perlu mengikuti arah kebijakan pastoral dari keuskupan, bisa dengan berkonsultasi dengan pastor paroki. Pilihlah lagu berdasarkan aturan Liturgi yang sudah ditetapkan. Benny Paw mengharapkan hal yang penting bagi petugas paduan suara (koor) yang ada di paroki agar hadir menjadi pelayan, bukan pementas. Liturgi itu adalah peristiwa kebersamaan, bukan untuk kepentingan ego pribadi agar bisa dicintai bersama. Berusahalah untuk mengutamakan kepentingan rohani umat.
Selanjutnya, ada sesi II setelah makan siang bersama. Sesi ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang satu adalah peserta yang menjadi dirigen dan penyanyi paduan suara (koor), kelompok yang satunya lagi adalah peserta yang menjadi organis. Peserta yang adalah dirigen dan penyanyi paduan suara (koor) dibimbing untuk menyadari posisinya sebagai pelayan liturgi. Mereka diajak untuk mengenal prinsip dan teknik dalam teks lagu-lagu liturgi. Saat menyanyikan lagu liturgi, kelompok koor perlu melihat partitur yang sesuai di dalam teks dengan tepat. Bagi seorang dirigen yang memimpin lagu, harus memiliki jiwa yang ramah, penuh sukacita, dan bergerak dengan kerendahan hati karena lagu liturgi itu adalah sebuah doa yang dinyanyikan.
Di bagian kelompok peserta organis, mereka diarahkan untuk melihat musik liturgi sebagai bagian dari keselamatan Allah. Musik liturgi adalah ekspresi iman, seperti bangsa Israel yang telah diselamatkan Allah dari perbudakan di Mesir, mereka semua memuliakan Allah lewat nyanyian. Peserta diajak juga mengenal sejarah pembaruan musik liturgi dalam Konsili Vatikan II lewat dokumen Sacrosanctum Concilium (SC), yang membawa Perayaan Ekaristi itu bukan hanya tentang kurban, tetapi partisipasi umat yang aktif sehingga ada dimensi perjamuan dan persatuan. Para organis dibekali cara bermain organ dengan harmoni, struktur musik, progresi akor, overtune menyusun harmoni. Kedua kelompok ini setelah diberikan penjelasan secara teori, langsung menjalani bimbingan secara praktik.
“Semoga semangat kita meningkat dan berkobar dalam melayani. Saya tidak menyangka bisa mengikuti kegiatan ini, tidak semua orang berkesempatan mendapat pelajaran ini. Harapannya semoga akan terus ada kegiatan ini di kesempatan selanjutnya.” sebuah kesan dan pesan dari Rita selaku peserta yang mengikuti kegiatan ini. Pastor Hario selaku pastor paroki juga menyampaikan harapan setelah terlaksananya kegiatan ini. Beliau menyampaikan semoga bapak dan ibu yang adalah pelayan musik liturgi, bisa lebih tepat memilih dan membawakan lagu liturgi sesuai dengan masanya dan lebih memperdalam makna pelayanan. Pesan juga bagi tim Komlit, kedepannya semoga ada agenda yang lebih intens untuk lebih memperdalam teknis dan spiritualitas sebagai pelayan musik liturgi sehingga dapat melahirkan pelatih handal di paroki-paroki.
Tim Komsos