Senin, 26 Januari 2026
Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDPKK), menyelenggarakan Perayaan Ekaristi untuk peringatan HUT nya ke-27 dan Pelantikan Pengurus masa bakti 2026 – 2031 di Gereja Hati Kudus Yesus Tasikmalaya pada Hari Senin, 26 Januari 2026 pukul 18.00.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Yohanes Hario Kristo Wibowo,Pr bersama dengan Romo Cornelius Rudyanto Bunawan, Pr. Misa tersebut berjalan khidmad, dan dihadiri oleh perwakilan BPKPKK Keuskupan Bandung, DPP Paroki HKY, para ketua lingkungan, seluruh anggota PDPKK serta umat umum lainnya.
Ada yang menarik dalam homili Romo Hario pada Perayaan Ekaristi ini. Beliau menyampaikan bahwa dalam berhubungan dengan Tuhan, hendaknya tetap sadar untuk selalu rendah hati. Fokus tetap pada Tuhan, bukannya pada diri sendiri. Dan memang benar, dalam berdoa manusia seringkali cenderung memaksa Tuhan untuk kepentingannya sendiri dan ada godaan untuk merasa selalu benar. Inilah yang disebut “godaan rohani”.
Beliau kemudian mengupas sebuah lagu rohani “Ambilah dan Trimalah” yang diciptakan oleh Onggo Lukito. Dimana syairnya diambil dari doa Santo Ignatius dari Loyola.
Ambillah dan trimalah sluruh kemerdekaanku.
Ingatanku dan pekertiku dan seluruh kehendakku.
Seluruh hidupku dan segala milikku yang Kau berikan padaku,
kuserahkan padaMu seturut kehendakMu.
Tuhan kumohon berikanlah! cinta kasih dan berkatMu.
Maka cukuplah bagiku, tiada lain yang kuinginkan, oh Tuhan.
Aaaaaaaa
Tuhan kumohon berikanlah! cinta kasih dan berkatMu.
Maka cukuplah bagiku,tiada lain yang kuinginkan, oh Tuhan.
Lirik lagu tersebut menyebutkan seluruh hidupnya, termasuk kehendaknya diberikan seutuhnya kepada Tuhan, seturut kehendak Tuhan. Namun selanjutnya ia masih tetap memohon (menghendaki), agar Tuhan untuk memberikan cinta kasih dan berkatNya untuk dia. Bukankah seharusnya dia sudah tidak punya kehendak lagi karena sudah diberikan Tuhan seutuhnya? Bahkan dibagian epiknya ada kata kata “Aaaaaa….” dengan nada yang tinggi lantas dinaikkan lagi setengah nada seakan-akan memaksa dan memarahi Tuhan, sebelum kembali mengulangi permohonan / kehendaknya sendiri kepada Tuhan. Lagu ini seolah-olah mau menunjukkan kelemahan manusia yang mungkin terjebak untuk memaksakan kehendak Tuhan karena merasa sudah selalu benar.
Homili ditutup dengan nasihat, bagaimanapun kedudukan seseorang termasuk dalam kepengurusan gereja, harus selalu rendah hati dan menjaga agar tidak merasa diri lebih benar dan lebih eksklusif dari yang lain. Ada banyak cara berdoa dalam gereja dan hendaknya tidak diperdebatkan mana yang lebih tinggi nilainya. Bahkan seorang pertapa dengan kontemplasinyapun masih saja bisa terjebak dalam godaan rohani ini, tuturnya.
Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan pelantikan dan pemberkatan Pengurus PDPKK Paroki Hati Kudus Yesus Tasikmalaya yang mana terpilih Bapak Leonardus Andres Yanuar sebagai koordinator dan Fransiska Chynthia Ritardy sebagai wakil koordinator. Kepada para pengurus baru diucapkan, “ Selamat menjalankan tugas kepengurusan”. Tuhan Memberkati